Senin, 18 Juni 2012

moral dan agama remaja


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Moral Remaja
a.    Moral
Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin yaitu mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangai yang dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai:
1. Prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk.
2. Kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah.
3. Ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik.
Moral ialah tingkah laku yang telah ditentukan oleh etika. Moral terbagi menjadi dua yaitu:
1. Baik; segala tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai baik.
2. Buruk; tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai buruk.
Menurut Purwadarminto moral juga diartikan sebagai ajaran baik dan buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya. Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang salah. Dengan demikian moral merupakan kendali dalam bertingkah laku.
Menurut Hadiwardoyo moral dapat diukur secara subyektif dan obyektif. Kata hati atau hati nurani memberikan ukuran yang subyektif, adapun norma memberikan ukuran yang obyektif. Apabila hati nurani ingin membisikan sesuatu yang benar, maka norma akan membantu mencari kebaikan moral. Kemoralan merupakan sesuatu yang berkaitan dengan peraturan-peraturan masyarakat yang diwujudkan di luar kawalan individu. Dorothy Emmet(1979) mengatakan bahwa manusia bergantung kepada tatasusila, adat, kebiasaan masyarakat dan agama untuk membantu menilai tingkahlaku seseorang. Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa yang benar dan salah berdasarkan standar moral. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber. Standar moral ialah standar yang berkaitan dengan persoalan yang dianggap mempunyai konsekuensi serius, didasarkan pada penalaran yang baik bukan otoritas kekuasaan, melebihi kepentingan sendiri, tidak memihak dan pelanggarannya diasosiasikan dengan perasaan bersalah, malu, menyesal, dan lain-lain.Moralitas memiliki tiga komponen:
1.    Komponen afektif/emosional terdiri dari berbagai jenis perasaan (seperti perasaan bersalah, malu, perhatian terhadap perasaan orang lain, dan sebagainya) yang meliputi tindakan benar dan salah yang memotivasi pemikiran dan tindakan moral. Komponen afektif moralitas (moral affect) merupakan berbagai jenis perasaan yang menyertai pelaksanaan prinsip etika. Islam mengajarkan pentingnya rasa malu untuk melakukan perbuatan yang  tidak baik sebagai sesuatu yang penting. Hadist menyatakan: Dari Ibnu Umar r.a, ia berkata bahwa Rasullah Saw, bersabda “Malu itu pertanda dari iman.” (HR Buhari dan Muslim) Malu dikatakan sebagai bagian dari iman karena rasa malu dapat menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermoral.

2.    Komponen kognitif merupakan pusat dimana seseorang melakukan konseptualtualisasi benar dan salah, dan membuat keputusan tentang bagaimana seseorang berperilaku. Komponen kognitif moralitas (moral reasoning) merupakan pikiran yang ditunjuk seseorang ketika memutuskan berbagai tindakan yang benar dan salah. Islam mengajarkan bahwa Allah mengilhamkan ke dalam jiwa manusia dua jalan yaitu jalan kefasikan dan ketakwaan. Manusia memiliki akal untuk memilih jalan mana yang ia akan tempuh. Dalam Al-Quran dinyatakan: dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-Nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya. (QS Al-Syams (91), 7-10) Pilihan manusia tentang jalan yang akan ia pilih dalam konflik ini menentukan apakah ia menjadi orang baik atau tidak.

3.    Komponen perilaku mencerminkan bagaimana seseorang sesungguhnya berperilaku ketika mengalami godaan untuk berbohong, curang, atau melanggar aturan moral lainnya. Komponen perilaku moralitas (moral behavior) merupakan tindakan yang konsisten terhadap moral seseorang dalam situasi di mana mereka harus melanggarnya. Islam menggambarkan bahwa memilih melakukan jalan yang benar seperti menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. (QS Al-Balad (90), 10-11) Melakukan sesuatu pada jalan yang benar merupakan pilihan bagi umat Islam, meskipun sulit.

b.    Perkembangan Moral Remaja
Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya. Sehingga tugas penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok daripadanya dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak.

Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya.

Tidak kalah pentingnya, sekarang remaja harus mengendalikan perilakunya sendiri, yang sebelumnya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru. Mitchell telah meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja yaitu:

1.     Pandangan moral individu semakin lama semakin menjadi lebih abstrak dan kurang konkret.

2.    Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.

3.    Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Ia mendorong remaja lebih berani menganalisis kode social dan kode pribadi dari pada masa anak-anak dan berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.

4.    Penilaian moral menjadi kurang egosentris.

5.    Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan psikologis.
Pada masa remaja, laki-laki dan perempuan telah mencapai apa yang oleh Piaget disebut tahap pelaksanaan formal dalam kemampuan kognitif. Sekarang remaja mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkannya berdasarkan suatu hipotesis atau proporsi. Jadi ia dapat memandang masalahnya dari berbagai sisi dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai dasar pertimbangan.

Menurut Kohlberg, tahap perkembangan moral ketiga, moral moralitas pascakonvensional harus dicapai selama masa remaja.tahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip dan terdiri dari dua tahap. Dalam tahap pertama individu yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan moral sehingga dimungkinkan adanya perbaikan dan perubahan standar apabila hal ini menguntungkan anggota-anggota kelompok secara keseluruhan. Dalam tahap kedua individu menyesuaikan dengan standar sosial dan ideal yang di internalisasi lebih untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri daripada sensor sosial. Dalam tahap ini, moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada orang-orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi.

Ada tiga tugas pokok remaja dalam mencapai moralitas remaja dewasa, yaitu:

1.    Mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum.

2.    Merumuskan konsep moral yang baru dikembangkan ke dalam kode moral sebagai kode prilaku.

3.    Melakukan pengendalian terhadap perilaku sendiri.

Perkembangan moral adalah salah satu topic tertua yang menarik minat mereka yang ingin tahu mengenai sifat dasar manusia. Kini kebanyakan orang memiliki pendapat yang kuat mengenai tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat di terima, tingkah laku etis dan tidak etis, dan cara-cara yang harus dilakukan untuk mengajarkan tingkah laku yang dapat diterima dan etis kepada remaja.

Perkembangan moral (moral development) berhubungan dengan peraturan-peraturan dan nilai-nilai mengenai apa yang harus dilakukan seseorang dalam interaksinya dengan orang lain. Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral). Tetapi dalam dirinya terdapat potensi yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (dengan orang tua, saudara dan teman sebaya), anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.

Teori Psikoanalisis tentang perkembangan moral menggambarkan perkembangan moral, teori psikoanalisa dengan pembagian struktur kepribadian manusia menjadi tiga, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek biologis yang irasional dan tidak disadari. Ego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek psikologis, yaitu subsistem ego yang rasional dan disadari, namun tidak memiliki moralitas. Superego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek social yang berisikan system nilai dan moral, yang benar-benar memperhitungkan "benar" atau "salahnya" sesuatu.
Hal penting lain dari teori perkembangan moral Kohlberg adalah orientasinya untuk mengungkapkan moral yang hanya ada dalam pikiran dan yang dibedakan dengan tingkah laku moral dalam arti perbuatan nyata. Semakin tinggi tahap perkembangan moral sesorang, akan semakin terlihat moralitas yang lebih mantap dan bertanggung jawab dari perbuatan-perbuatannya.

B.      Bentuk – Bentuk Perilaku Menyimpang Remaja
Berdasarkan permasalahan remaja yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dispesifikasikan bentuk- bentuk perilaku menyimpang atau kenakalan remaja yang dibagi menjadi empat kelompok besar, yaitu:
1.        Delikuensi Individual
Adalah perilaku menyimpang yang berupa tingkah laku kriminal yang merupakan gejala personal dengan ciri khas “jahat“ yang disebabkan oleh prodisposisi dan kecenderungan penyimpangan tingkah laku psikopat, neourotis, dan antisosial. Penyimpangan perilaku ini dapat diperhebat dengan stimuli sosial yang buruk, teman bergaul yang tidak tepat dan kodisi kultural yang kurang menguntungkan. Perilaku menyimpang pada tipe ini seringkali bersifat simptomatik karena muncul dengan disertai banyaknya konflik-konflik intra psikis yang bersifat kronis dan disintegrasi pribadi.
2.        Delinkuensi Situasional
Bentuk penyimpangan perilaku tipe ini pada umumnya dilakukan oleh anak-anak dalam klasifikasi normal yang dapat dipegaruhi oleh berbagai kekuatan situasional baik situasi yang berupa stimuli sosial maupun kekuatan tekanan lingkungan teman sebaya yang semuanya memberikan pengaruh yang “menekan dan memaksa“ pada pembentukan perilaku menyimpang. Penyimpangan perilaku dalam bentuk ini seringkali muncul sebagai akibat transformasi kondisi psikologis dan reaksi terhadap pengaruh eksternal yang bersifat memaksa. Dalam kehidupa remaja situasi sosial eksternal yang menekan, terutama dari kelompok sebaya dapat dengan mudah mengalahkan unsure internal yang berupa pikiran sehat, peraaan dan hati nurani sehingga memunculkan tingkah laku delinkuen situasional.
3.        Delinkuensi Sistematik
Perbuatan menyimpang dan kriminal pada anak-anak remaja dapat berkembang menjadi perilaku menyimpang yang disestematisir, dalam bentuk suatu organisasi kelompok sebaya yang berperilaku seragam dalam penyimpangan. Kumpulan tingkah laku yang menyimpang yang disestematisir dalam pengaturan status, norma dan peranan tertentu kan memunculkan sikap moral yang salah dan justru muncul rasa kebanggaan terhadap perbedaan-perbedaan dengan norma umum yang berlaku.
Semua perilaku menyimpang yang seragam dilakukan oleh anggota kelompok ini kemudian dirasionalisir dan dilakukan pembenaran sendiri oleh seluruh anggota kelompok, sehingga perilaku menyimpang yang dilakukan menjadi terorganisir dan sistematis sifatnya. Dorongan berperilaku menyimpang pada kelompok remaja terutama muncul pada saat kelompok remaja ini dalam kondisi tidak sadar atau setengah sadar, karena berbagai sebab dan berada dalam situasi yang tidak terawasi oleh kontrol diri dan kontrol sosial. Lama kelamaan perilaku menyimpang ini diulang dan diulang kembali, dan kemudian dirasakan enak dan menyenangkan yang kemudian diprofesionalisasikan yang pada akhirnya kemudian digunakan untuk menegakkan gengsi diri secara tidak wajar.
4.        Delinkuensi Komulatif
Pada hakekatnya bentuk delikuensi ini merupakan produk dari konflik budaya yang merupakan hasil dari banyak konflik kultural yang kontroversial dalam iklim yang penuh konflik.
       Perilaku menyimpang tipe ini memiliki ciri utama, yaitu:
a.    Mengandung banyak dimensi ketegangan syaraf, kegelisahan batin, dan keresahan hati pada remaja, yang kemudian disalurkan dan dikompensasikan secara negatif pada tindak kejahatan dan agresif tak terkendali.
b.   Merupakan pemberontakan kelompok remaja terhadap kekuasaan dan kewibawaan orang dewasa yang dirasa berlebihan.  Untuk dapat menemukan identitas diri lewat perilaku yang melanggar norma sosial dan hukum.
c.    Diketemukan adanya banyak penyimpangan seksual yang disebabkan oleh penundaan usia perkawinan, jauh sesudah kematangan biologis tercapai dan tidak disertai oleh kontrol diri yang kuat, hal ini bisa terjadi karena sulitnya lapangan pekerjaan ataupun sebab-sebab yang lain.
d.    Banyak diketemukan munculnya tindak ekstrem radikal yang dilakukan oleh kelompok remaja, yang mengganggu dan merugikan kehidupan masyarakat, yaitu cara untuk memenuhi kebutuhan yang dilakukan dengan menggunakan cara-cara kekerasan, penculikan, penyadaran dan sebagainya.
Dengan mencermati bentuk perilaku menyimpang yang dilihat dari dimensi penyebabnya, maka secara fisik wujud dari perilaku menyimpang dapat berupa perilaku sebagai berikut :
a.    Main kebut-kebutan di jalan perhitungan bahwa hal tersebut mengganggu keamanan, keselamatan dan membahayakan jiwa diri sendiri maupun orang lain.
b.    Perilaku ugal-ugalan, berandalan, urakan dan perilaku-perilaku lain yang mengacaukan lingkungan sekitar.  Hal ini sering dilakukan sebagai akibat kelebihan energy dan dorongan primitive yang tak terkendali, serta upaya mengisi waktu luang tanpa bimbingan orang dewasa.
c.    Perkelahian antar individu, antar gang, antar kelompok, antar sekolah ataupun antar suku, yang kesemuanya menunjukan akibat negatif.
d.    Membolos sekolah dan bergelandangan sepanjang jalan atau bersembunyi di tempat terpencil sambil melakukan berbagai eksperimen perilaku sosial.
e.    Perilaku kriminalitas, yang berupa perbuatan mengancam, intimidasi memeras, merampas dan sebagainya.
f.     Berpestapora sambil mabuk-mabukan dan melakukan perbuatan seks bebas yang mengganggu ligkungan.
g.    Perkosaan dan agresifitas sosial atau pembunuhann karena motif seksual atau didorong oleh reaksi-reaksi konpensatoris dan peranan inferior yang menuntut pengakuan diri.
h.    Kecanduan dan ketagihan obat terlarang yang erat kaitannya dengan tindak kejahatan.
i.     Perjudian dan bentuk-bentuk permainan dengan taruhan yang mengakibatkan ekses kriminalitas.
j.     Perbuatan anti sosial dan a sosial yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan pada anak-anak remaja simptomatik, neourotik dan gangguan jiwa lain.
k.    Penyimpangan-penyimpangan perilaku lain yang disebabkan oleh kerusakan pada karakter anak yang menuntut kompensasi disebabkan oleh organ-organ yang inferior.

C.   Perkembangan Keagamaan Remaja.

Latar belakang kehidupan keagamaan remaja dan ajaran agamanya berkenaan dengan hakekat dan nasib manusia, memainkan peranan penting dalam menentukan konsepsinya tentang apa dan siapa dia, dan akan menjadi apa dia.

Agama, seperti yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, terdiri atas suatu sistem tentang keyakinan-keyakinan, sikap-sikap danpraktek-praktek yang kita anut, pada umumnya berpusat sekitar pemujaan.

Dari sudut pandangan individu yang beragama, agama adalah sesuatu yang menjadi urusan terakhir baginya. Artinya bagi kebanyakan orang, agama merupakan jawaban terhadap kehausannya akan kepastian, jaminan, dan keyakinan tempat mereka melekatkan dirinya dan untuk menopang harapan-harapannya.

Dari sudut pandangan social, seseorang berusaha melalui agamanya untuk memasuki hubungan-hubungan bermakna dengan orang lain, mencapai komitmen yang ia pegang bersama dengan orang lain dalam ketaatan yang umum terhadapnya.bagi kebanyakan orang, agama merupakan dasar terhadap falsafah hidupnya.

Penemuan lain menunjukkan, bahwa sekalipun pada masa remaja banyak mempertanyakan kepercayaan-kepercayaan keagamaan mereka, namun pada akhirnya kembali lagi kepada kepercayaan tersebut. Banyak orang yang pada usia dua puluhan dan awal tiga puluhan, tatkala mereka sudah menjadi orang tua, kembali melakukan praktek-praktek yang sebelumnya mereka abaikan (Bossard dan Boll, 1943).

Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaiman dijelaskan oleh Adams & Gullotta (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bias memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.

Dibandingkan dengan masa awal anak-anak misalnya, keyakinan agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada masa awal anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan berpikir simbolik. Tuhan dibayangkan sebagai person yang berada diawan, maka pada masa remajamereka mungkin berusaha mencari sebuah konsep yang lebih mendalam tentang Tuhan dan eksistensi. Perkembangan pemahaman remaja terhadap keyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya.
Oleh karena itu meskipun pada masa awal anak-anak ia telah diajarkan agama oleh orang tua mereka, namun karena pada masa remaja mereka mengalami kemajuann dalam perkembangan kognitif, mereka mungkin mempertanyakan tentang kebenaran keyakinan agama mereka sendiri. Sehubungan dengan pengaruh perekembangan kognitif terhadap perkembangan agama selama masa remaja ini.

Dalam suatu studi yang dilakukan Goldman (1962) tentang perkembangan pemahaman agama anak-anak dan remaja dengan latar belakang teori perkembangan kognitif Piaget, ditemukan bahwa perkembangan pemahaman agama remaja berada pada tahap 3, yaitu formal operational religious thought, di mana remaja memperlihatkann pemahaman agama yang lebih abstrak dan hipotesis. Peneliti lain juga menemukan perubahan perkembangan yang sama, pada anak-anak dan remaja. Oser & Gmunder, 1991 (dalam Santrock, 1998) misalnya menemukan bahwa remaja usia sekitar 17 atau 18 tahun makin meningkat ulasannya tentang kebebasan, pemahaman, dan pengharapan konsep-konsep abstrak ketika membuat pertimbangan tentang agama.

Apa yang dikemukakan tentang perkembangan dalam masa remaja ini hanya merupakan cirri-ciri pokoknya saja.

James Fowler (1976) mengajukan pandangan lain dalam perkembangan konsep religius. Indiduating-reflexive faith adalah tahap yang dikemukakan Fawler, muncul pada masa remaja akhir yang merupakan masa yang penting dalam perkembangan identitas keagamaan. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, individu memiliki tanggung jawab penuh atas keyakinan religius mereka. Sebelumnya mereka mengandalkan semuanya pada keyakinan orang tuanya.

Salah satu area dari pengaruh agama terhadap perkembangan remaja adalah kegiatan seksual. Walaupun keanakaragaman dan perubahan dalam pengajaran menyulitkan kita untuk menentukan karakteristik doktrin keagamaan, tetapi sebagian besar agama tidak mendukung seks pranikah.

Oleh karena itu, tingkat keterlibatan remaja dalam organisai keagamaan mungkin lebih penting dari pada sekedar keanggotaan mereka dalam menentukan sikap dan tingkah laku seks pranikah mereka. Remaja yang sering menghadiri ibadat keagamaan dapat mendengarkan pesan-pesan untuk menjauhkan diri dari seks.

Remaja masa kini menaruh minat pada agama dan menganggap bahwa agama berperan penting dalam kehidupan. Minat pada agama antara lain tampak dengan dengan membahas masalah agama, mengikuti pelajaran-pelajaran agama di sekolah dan perguruan tinggi, mengunjungi tempat ibadah dan mengikuti berbagai upacara agama.

Sejalan dengan perkembangan kesadaran moralitas, perkembangan penghayatan keagamaan, yang erat hubungannya dengan perkembangan intelektual disamping emosional dan volisional (konatif) mengalami perkembangan.

Para ahli umumnya (Zakiah Daradjat, Starbuch, William James) sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan itu dapat di bagi dalam tiga tahapan yang secara kulitatif menunjukkan karakteristik yang berbeda. Adapun penghayatan keagamaan remaja adalah sebagai berikut:

1). Masa awal remaja (12-18 tahun) dapat dibagi ke dalam dua sub tahapan sebagai berikut:

a) Sikap negative (meskipun tidak selalu terang-terangan) disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara hipocrit (pura-pura) yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu selaras dengan perbuatannya.

b) Pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan pemikiran atau aliran paham banyak yang tidak cocok atau bertentangan satu sama lain.

c) Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptic(diliputi kewas-wasan) sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan kepatuhan.

2). Masa remaja akhir yang ditandai antara lain oleh hal-hal berikyut ini:

a) Sikap kembali, pada umumnya, kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual, bahkan agama dapat menjadi pegangan hidupnya menjelanh dewasa.

b) Pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya.

c) Penghayatan rohaniahnya kembali tenanh setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya, yang baik shalih) dari yang tidak. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran paham dan jenis keagamaan yang penuh toleransi seyogyanya diterima sebagai kenyataan yang hidup didunia ini.

Menurut Wagner (1970) banyak remaja menyelidiki agama sebagai suatu sumber dari rangsangan emosial dan intelektual. Para pemuda ingin mempelajari agama berdasarkan pengertian intelektual dan tidak ingin menerimanya secara begitu saja. Mereka meragukan agama bukan karena ingin manjadi agnostik atau atheis, melainkan karena ingin menerima agama sebagai sesuatu yang bermakna berdasarkan keinginan mereka untuk mandiri dan bebas menentukan keputusan-keputusan mereka sendiri.

D.   Implikasinya bagi Pendidikan
Memperhatikan permasalahan yang mungkin timbul dalam kehidupan masa remaja, sudah jelas kata Conger (197:ix) pemahaman dan pemecahannya harus dilakukan secara interdisipliner dan antarlembaga. Meskipun demikian, pendekatan dan pemecahannya dari pendidikan merupakan salah satu jalan yang paling strategis karena bagi sebagian besar remaja bersekolah dengan para pendidik, khususnya gurulah, mereka itu paling banyak mempunyai kesempatan berkomunikasi dan bergaul.
            Di antara usaha-usaha pembinaan, sekurang-kurangnya untuk mengurangi kemungkinan tumbuhnya permasalahan tersebut di atas, dalam rangka kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan para pendidik umumnya dan para guru khususnya, ialah:
(a) Untuk memahami dan mengurangi permasalahan yang berhubungan dengan perkembangan fisik dan perilaku psikomotorik, antara lain:
(1)  Seyogiannya dalam program dan kegiatan pendidik tertentu, diadakan program dan perlakuan layanan khusus bagi siswa remaja pria dan wanita (misalnya, dalam pelajaran anatomi dan fisiologi dan pendidikan olahraga) yang diberikan pula oleh para guru yang dapat menyelenggarakan penjelasan nya dengan penuh dignity;
(2)  Disamping itu melalui bentuk-bentuk pendidikan secara formal tersebut, kiranya dapat pula diadakan diskusi atau panel atau ceramah tamu tentang pendidikan jenis (sex education), bahaya-bahaya dari perilaku menyimpang dalam pemuasan kehidupan seksual (masturbasi, onani, prostitusi, dan sebagainya) terhadap kesehatan serta perkembangan jasmani dan rohani yang sehat;
(3)  Role playing, akan sangat tepat untuk mengurangi ekses sosial dari perkembangan fisik dan perilaku psikomotorik, yang sebenarnya merupakan hal wajar (natural) terjadi tidak perlu merupakan keanehan yang baru ditabukan secara berlebihan.
(b) Untuk memahami dan mengurangi kemungkinan timbulnya permasalahan yang berhubungan dengan  perkembangan bahan perilaku kognitif, antara lain:
(1)  Kepada para guru bidang studi tertentu seperti bahasa asing, matematika, seni suara, dan olahraga, tampaknya dituntut pemahaman yang mendalam dan perlakuan layanan perndidikan dan bimbingan kebijaksanaan sehingga siswa-siswa remaja yang biasanya mengalami kesulitan dan kelemahan tertentu dalam bidang-bidang studi yang sensitif tersebut tidak menjurus kepada situasi-situasi frustasi yang mengandung lahirnya reaksi-reaksi mekanisme pertahanan diri atau defence mechanism atau sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang negatif destruktif, baik terhadap bidang studinya maupun gurunya;
(2)  Penggunaan strategi belajar-mengajar yang tepat (individualize atau small group based instruction) untuk membantu siswa-siswa yang tepat (the accelerated students), dan yang lambat (the slow leaners) misalnya menggunakan sistem belajar modul;
(3)  Penjurusan atau pemilihan dan penentuan program studi seyogyanya memperhitungkan segala aspek selengkap mungkin dengan data atau informasi secermat mungkin yang menyangkut kemampuan dasar intelektual (iq), bakat khusus (aptitudes), di samping aspirasi atau keinginan orangtuanya dan siswa yang bersangkutan.
b)   Untuk memahami dan mengurangi kemungkinan timbulnya permasalahan yang berhubungan dengan perkembangan perilaku social, moralitas dan kesadaran hidup atau penghayatan keagamaan, antara lain:
1)   Diusahakan terciptanya suasana dan tersedianya fasilitas yang memungkinkan terbentuknya kelompok-kelompok perkumpulan remaja yang mempunyai tujuan-tujuan dan program-program kegiatan yang positif konstruktif berdasarkan minat, keolahragaan, kesenian, keagamaan, hobi, kelompok belajar atau seperti diskusi, yang diorganisasikan oleh mereka sendiri dengan guidance dari para pendidik seperlunya;
2)   Diaktifkannya rumah dengan sekolah (parent-teacher association) untuk saling mendekatkan dan menyelaraskan system nilai yang dikembangkan dan cara pendekatan terhadap siswa remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yang diberikan dalam pembinaannya;
3)   Pertemuan dan kerja sama antarkelembagaan yang mempunyai tugas dan kepentingan yang bersangkutan dengan kehidupan remaja secara rasional (sekolah, lembaga keagamaan, lembaga kesehatan, lembaga keamanan, lembaga pengabdian kanak-kanak, lembaga konsultasi psikologis, guidance and consulting centre, jawatan sosial, jawatan penempatan tenaga kerja, lembaga kesehatan mental, dan sebagainya), tampaknya akan sangat bermanfaat dalam rangka membantu para remaja mengembangkan program-program pembinaan minat, karier, dan aktifitas lainnya.
c)    Untuk memahami dan mengurangi kemungkinan timbulnya permasalahan yang berhubungan dengan perkembangan fungsi-fungsi konatif, afektif, dan kepribadian, antara lain:
1)   Sudah barang tentu jalan yang paling strategis untuk ini ialah apabila para pendidik terutama para orang tua dan guru dapat menampilkan pribadi-pribadinya yang dapat merupakan objek identifikasi sebagai pribadi idola para remajanya;
2)   Pemberian tugas-tugas yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, belajar menimbang, memilih dan mengambil keputusan atau tindakan yang tepat akan sangat menunjang bagi pembinaan kepribadiannya.



BAB III
CRITICAL THINKING
A.   Critical Thinking
Masa muda (remaja) merupakan masa pencarian jati diri dan masa labil. Masa  remaja identik dengan istilah moral atau moralitas dan keagamaan. Karena masa remaja sering terjadi penyimpangan di moralitas dan keagamaan.
Pada sub ini, yang terkenal adalah teori menurut Kohlberg, dimana mempunyai 3 tahap dalam perkembangan moral, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Menurutnya moral moralitas pascakonvensional harus dicapai selama masa remaja.tahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip dan terdiri dari dua tahap Dalam tahap pertama individu yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan moral sehingga dimungkinkan adanya perbaikan dan perubahan standar apabila hal ini menguntungkan anggota-anggota kelompok secara keseluruhan. Dalam tahap kedua individu menyesuaikan dengan standar sosial dan ideal yang di internalisasi lebih untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri daripada sensor sosial. Dalam tahap ini, moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada orang-orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi.
Perkembangan moralitas pasti berhubungan dengan peraturan-peraturan dan nilai-nilai keseharian bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Setiap manusia dari lahirnya sudah memiliki potensi untuk ke arah tersebut. Maka walaupun pada saat masa kanak-kanak tidak mempunyai moral (imoral), sesungguhnya itu hanya awal agar dapat dilatih potensi si anak tersebut untuk ke arah tersebut.
Berbeda lagi dengan teori psikoanalisis, teori ini mempunyai 3 struktur kepribadin manusia. 3 struktur kepribadian manusia  tersebut adalah id, ego dan superego. Id adalah kepribadian tampak pada biologis dan bersifat abstrak dan tak disadari, ego adalah kepribadian dari psikologis dan rasional serta disadari tetapi tak bermoral, superego adalah kepribadian yang dapat menentukan baik dan buruk serta bermoral.
Masa remaja juga banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan. Bentuk penyimpangan terbagi menjadi empat, yaitu Delikuensi Individual, Delinkuensi Situasional, Delinkuensi Sistematik, dan Delinkuensi Komulatif. Bentuk penyimpangan ini mempunyai ciri  khusus, ciri khusus tersebut adalah ketegangan, radikal, pemberontakan an penyimpangan seksual. Karena dalam hal ini banyak sekali yang dibebankan pada remaja.
Penyimpangan-penyimpangan tersebut dapat berkurang atau terbatasi oleh adanya agama. Karena di dalam agama terisikan peraturan-peraturan yang mengekang keinginan hawa nafsu diri. Apalagi di remaja, hawa nafsunya terletak di puncak tertinggi. Maka tampak bahwa seorang remaja yang sering mengikuti pengajian-pengajian di masing-masing agamanya dapat menahan hawa nafsunya dan tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan.
Kemudian, dalam pendidikan, yang sangant berperan adalah seorang guru. Maka guru harus mengetahui keadaan psikologis dn karakter dari si anak didik tersebut, dengan cara guru tersebut berkomunikasi dan bergaul dengan anak didiknya. Karena pembibingan terbaik dalam pembenahan moralitas dan kegamaan seorang remaja dengan cara tersebut. dampak lainnya, agar dalam berlangsungnya proses belajar mengajar dapat berjalan kondusif.



BAB IV
KESIMPULAN
A.   Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
a.     Masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. Untuk itu diperlukan pembinaan dalam hal moralitas dan keagamaannya, agar remaja tidak kehilangan arah tujuannya melalui proses pendidikan sebagai wahananya.
b.    Moral dan agama sangat berpengaru penting dalam perkembangan seorang remaja, karena pada masa remaja adalah masa kelabilan dan sangat mudah meniru dan dipengaruhi.
c.    Pendidikan adalah wahana bagi para remaja untuk mengasah potensi dalam hal moral dan agama, agar para remaja tidak tersesat dalam memperoleh tujuannya.



DAFTAR PUSTAKA

Harlock, Elizabeth. B. 1998. Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanang rentang pendidikan. Jakarta; Erlangga
Hartinah, Siti. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Refika Aditama
Mulyani, Sri. Konsep Ahlussunnah wal Jama’ah tentang Etika (2).http://www.nu. or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=7672
Purwakanian, Hasan Aliah B. 2008. Psikologi Perkembangan Islam, Menyingkap Rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian. Jakarta:PT.Grafindo Perkasa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar